“Hati yang pulih, Pelayanan yang bertumbuh”
SD Strada Cabang JPBS – Sabtu, 5 September 2026
Menjadi seorang guru tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengajar, tetapi juga kesiapan untuk terus belajar, menghadapi tantangan, menerima masukan, mengelola berbagai tuntutan, dan tetap hadir dengan hati yang penuh bagi peserta didik. Karena itu, merawat kesehatan mental dan menjaga motivasi guru menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas pelayanan pendidikan. Berangkat dari kesadaran tersebut, Kelompok Kerja Kepala Sekolah Tingkat SD Strada Cabang JPBS Tahun Ajaran 2026/2027 menyelenggarakan Seminar Motivasi dan Kesehatan Mental Guru dengan tema “Hati yang Pulih, Pelayanan yang Bertumbuh”. Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, di Aula SD Strada Vanlith 1, Jakarta Pusat, dan diikuti oleh para guru dari Strada cabang JPBS, yaitu SD Strada Bhakti Utama, SD Strada Pejompongan, SD Strada Vanlith 1, SD Strada Wiyatasana, dan SD Strada Bina Mulia 1. Dalam kegiatan ini, Kelompok Kerja Kepala Sekolah SD Cabang JPBS bekerja sama dengan Kejar Cita dan menghadirkan Gabriella Sinta Riwut, S.Psi., Psikolog sebagai trainer. Seminar berlangsung dalam suasana yang hangat, semangat, dan menyenangkan. Materi tidak hanya disampaikan melalui penjelasan, tetapi juga diperkaya dengan aktivitas refleksi, praktik, dan bermain peran sehingga para guru dapat menghubungkan materi dengan pengalaman mereka dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Para guru dari SD Strada Bhakti Utama, SD Strada Pejompongan, SD Strada Vanlith 1, SD Strada Wiyatasana, dan SD Strada Bina Mulia 1 berfoto bersama trainer, kepala sekolah, dan pengawas sebelum kegiatan dimulai.
Memahami Motivasi dan Makna
Menjadi Guru Seminar diawali dengan mengajak para guru melihat kembali motivasi dalam menjalankan profesinya. Guru dengan motivasi yang baik bukan hanya bersemangat dalam mengajar, tetapi juga siap menghadapi tantangan, terbuka terhadap perkembangan diri, memiliki inisiatif untuk berkontribusi, dan berorientasi pada solusi. Motivasi guru pada akhirnya tidak hanya berdampak bagi dirinya sendiri. Guru yang memiliki motivasi tinggi dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas, menjadi teladan dan pembelajar sepanjang hayat, serta turut mendukung peningkatan prestasi peserta didik dan mutu sekolah. Namun, motivasi tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang memengaruhinya, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan. Makna pekerjaan, kepuasan terhadap profesi, komitmen terhadap nilai-nilai pendidikan, kesehatan fisik dan mental, iklim kerja, penghargaan, kesejahteraan, hingga beban kerja menjadi bagian yang dapat memengaruhi semangat guru dalam menjalankan tugasnya.

Gabriella Sinta Riwut, S.Psi., Psikolog menyampaikan materi tentang motivasi, kesehatan mental, dan pola pikir bertumbuh kepada para guru SD Cabang JPBS.
Mengubah Cara Pandang untuk Terus Bertumbuh
Salah satu bagian penting dalam seminar adalah pembahasan mengenai growth mindset atau pola pikir bertumbuh. Para guru diajak melihat bahwa tantangan dan kesulitan dalam menjalankan tugas tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang menghambat. Tantangan dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan menemukan cara baru. Pola pikir bertumbuh mengajak seseorang untuk tetap tekun ketika menghadapi rintangan, memandang usaha sebagai bagian dari proses pengembangan diri, serta melihat kritik bukan sebagai serangan pribadi, tetapi sebagai sumber semangat dan inspirasi untuk berkembang. Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan tersebut dapat dimulai dari cara guru berbicara kepada dirinya sendiri. “Saya tidak mampu” dapat diubah menjadi “Saya perlu belajar.” Ketika menghadapi kelas yang sulit, guru dapat mengubah “Kelas ini sulit” menjadi “Saya perlu mencoba strategi lain.” Bahkan ketika mengalami kegagalan, guru diajak melihatnya sebagai pengalaman untuk belajar. Pesan ini menjadi semakin nyata ketika beberapa peserta diajak bermain peran di depan peserta seminar. Guru memerankan situasi dengan pola pikir yang belum bertumbuh, kemudian membandingkannya dengan respons yang menunjukkan pola pikir bertumbuh. Aktivitas tersebut membuat peserta tidak hanya memahami konsep secara teori, tetapi dapat melihat secara langsung bagaimana perubahan cara berpikir dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi masalah.

Peserta mempraktikkan perbedaan respons dengan pola pikir tetap dan pola pikir bertumbuh melalui aktivitas bermain peran serta tanya jawab.
Mengenali Emosi, menerima, dan Menentukan Respons
Pembahasan kemudian berlanjut pada pentingnya menjaga kesehatan mental. Guru diajak mengenali berbagai sumber tekanan dan memahami bahwa stres dapat hadir dalam bentuk yang berbeda. Eustress merupakan stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif, sedangkan distress bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif. Dalam menghadapi tekanan, peserta diperkenalkan pada emotion-focused coping, antara lain dengan menggunakan roda emosi untuk mengenali emosi yang sedang dirasakan. Mengenali emosi menjadi langkah awal agar seseorang dapat merespons keadaan dengan lebih sadar. Peserta juga diajak memahami pentingnya menerima keadaan yang memang terjadi dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat dikendalikan. Pikiran, persepsi, dan tindakan diri sendiri merupakan hal yang dapat dikendalikan, sedangkan nasib, musibah, serta persepsi dan respons orang lain berada di luar kendali. Dengan demikian, ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan, guru tidak perlu terusmenerus menghabiskan energi untuk melawan hal yang berada di luar kendali. Energi tersebut dapat dialihkan untuk memilih respons dan tindakan yang lebih konstruktif.
Belajar Menenangkan Diri melalui Praktik Sederhana
Suasana seminar semakin interaktif ketika Gabriella mengajak para guru mempraktikkan beberapa teknik sederhana untuk membantu menstabilkan emosi, seperti finger breathing, square breathing, dan clench and release. Peserta juga diajak melakukan grounding melalui pancaindra.
Grounding melalui pancaindra adalah teknik untuk membantu seseorang kembali fokus pada saat ini dengan menyadari apa yang sedang dirasakan melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap.
• 5 hal yang dilihat → sebutkan 5 benda di sekitar.
• 4 hal yang dapat disentuh → rasakan tekstur meja, kursi, pakaian, dan sebagainya.
• 3 hal yang didengar → suara orang, kendaraan, AC, atau burung.
• 2 hal yang dicium → aroma makanan, parfum, atau udara sekitar.
• 1 hal yang dirasakan melalui pengecap → rasa air minum atau makanan.
Aktivitas sederhana tersebut memberikan pengalaman langsung kepada guru bahwa menjaga kesehatan mental dapat dimulai dengan mengenali kondisi diri, mengambil jeda, dan menggunakan cara-cara sederhana untuk membantu menenangkan diri.

Guru mempraktikkan teknik Finger Breathing
Menata Masalah dan Menentukan Prioritas
Selain mengelola emosi, guru juga diajak melihat persoalan secara lebih terarah melalui problemfocused coping. Langkah yang dapat dilakukan adalah membuat daftar hal-hal yang perlu diselesaikan, kemudian menyusunnya berdasarkan prioritas. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah Eisenhower Matrix, yaitu membedakan pekerjaan berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya. Hal yang penting dan mendesak perlu segera dilakukan; hal yang penting tetapi belum mendesak perlu direncanakan; pekerjaan yang kurang penting tetapi mendesak dapat didelegasikan atau meminta bantuan; sedangkan hal yang kurang penting dan tidak mendesak dapat ditunda atau ditinggalkan. Bagi guru yang setiap harinya berhadapan dengan berbagai tugas dan tanggung jawab, kemampuan menentukan prioritas menjadi salah satu cara untuk mengelola energi dengan lebih bijaksana.
Dari Seminar Menuju Pelayanan yang Bertumbuh
Kegiatan berlangsung dengan penuh antusiasme hingga akhir. Para guru mendapatkan kesempatan bukan hanya untuk mendengarkan, tetapi juga untuk berefleksi, berdiskusi, mempraktikkan teknik sederhana, dan melihat kembali cara mereka menghadapi berbagai tantangan dalam pekerjaan. Seminar ini sekaligus menjadi pengingat bahwa guru tidak harus menjadi pribadi yang sempurna. Yang penting adalah memiliki kemauan untuk terus belajar, mampu bangkit ketika menghadapi tantangan, dan tetap memiliki hati untuk melayani. Guru memiliki peran penting bukan hanya dalam mentransfer ilmu, tetapi juga dalam membangun karakter dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik.

Berkolaborasi bersama dalam mendukung pengembangan dan kesehatan mental para pendidik.
Hati yang Pulih, Pelayanan yang Bertumbuh
Seminar “Hati yang Pulih, Pelayanan yang Bertumbuh” menjadi ruang bagi para guru untuk kembali melihat dirinya, bukan untuk menuntut kesempurnaan, melainkan untuk menemukan ruang bertumbuh. Ketika guru mampu mengenali emosinya, menjaga kesehatan mental, terbuka terhadap feedback, berani mencoba cara baru, serta memandang tantangan sebagai kesempatan untuk belajar, guru tidak hanya bertumbuh secara pribadi. Pertumbuhan tersebut pada akhirnya dapat hadir dalam kualitas relasi, pembelajaran, dan pelayanan kepada peserta didik.
Salam AMDG!